Minggu, November 23, 2008

Edisi November 2008

Sejarah Singkat Berdirinya Masjid Raya Nur ‘Alam :

Menuju Masjid Bersejarah Sebagai
Wisata Religius di Kota Pekanbaru

Disusun oleh : Drs. H. Ahmad Tanwir Ayang, M.Si

Tahun 1762 Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan pusat Kerajaan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan yang disebut Kampung Bukit. Pemindahan pusat kerajaan diikuti dengan pembangunan Istana Raja, Balai Kerapatan Adat dan Masjid. Persebatian unsur pemerintah, adat dan ulama disebut “Tali Berpilin Tiga” (Tungku Tiga Sejerangan).


Ada pun masjid yang dibangun bernama “Masjid Alam” yang mangambil nama kecil Sultan Alamuddin Syah, yakni “Raja Alam”.
Upacara ‘menaiki” bangunan dilakukan pada sholat Jum’at dengan imam Sayid Oesman Syahabuddin, menantu Sultan Alamuddin, ulama besar Kerajaan Siak. Sultan Alamuddin Syah digantikan putranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Mua’zzam Syah (1766-1779).


Pada masa pemerintahan beliau Bukit Senapelan berkembang pesat. Sultan Muhammad Ali membangun “pekan” (pasar) yang baru. Dari nama ”Pekan Baharoe” lahirlah nama “Pekanbaru” yang sekarang ini (23 Juni 1784). Dengan bertambahnya jumlah penduduk Bukit Senapelan (Pekanbaru) menyebabkan “Masjid Alam” tak mampu menampung jamaah untuk sholat di sana. Musyawarah dilakukan Sultan Muhammad Ali dengan Sayid Oesman dan Datuk Empat Suku, kemudian disepakati untuk memperbesar Masjid Alam.

Setelah upacara “menaiki” masjid yang baru tersebut selesai, maka dilakukan “Petang Megang” bulan puasa itu juga Ke empat “Tiang Seri” nya disediakan oleh Datuk Empat Suku (Datuk Lima Puluh, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir, dan Datuk Kampar). “Tiang Tua” nya disediakan oleh Sayid Oesman. Pekerjaan ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kubah” masjid disediakan oleh oleh Sultan Muhammad Ali. Cara ini melambangkan terwujudnya persebatian antara pemerintah, ulama, adat dan rakyatnya. Dengan diperbesarnya Masjid Alam dan dimasukkannya lambing-lambang baru pada bangunan itu, timbul gagasan untuk menambah nama yang ada dari “Masjid Alam” manjadi “Masjid Nur ‘Alam”.

Tahun 1779, Sultan Muhammad Ali diganti Tengku Ismail (Sultan Islmail) dengan gelar Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1779-1781). Tahun 1781 Sultan Ismail mangkat digantikan oleh putranya Tengku Sulung yang bergelar Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1781-1784). Tahun 1782 beliau memindahkan pusat Kerajaan Siak ke Mempura Kecil.

Tahun 1784 beliau berangkat ke Dungun – Trengganu (Malaysia) dan mangkat di sana. Sultan Yahya digantikan oleh putra Sayid Oesman yang bernama Tengku Edo Sayid Ali yang bergelar Assyadis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin (1784-1810).

Pusat Kerajaan Siak dipindahkan dari Mempura Kecil ke Kota Tinggi (Kota Siak sekarang ini). Di masa pemerintahannya. Masjid ini diberi “selasar” yang dipergunakan sebagai tempat penziarah untuk beristirahat. Gagasan membuat selasar timbul ketika Sultan Ali memakamkan ayahandanya Sayid Oesman yang mangkat dalam peperangan di Batu Bahara (Sumut). Dilakukan pula upacara pemberian gelar “Marhum Barat”.

Pusat Kerajaan Siak sudah dipindahkan namun Masjid Nur’Alam tetaplah terpelihara oleh jamaah dan pejabat kesultanan yang bermukim di Pekanbaru. Pada masa pemerintahan Sultan Ismail II yang bergelar Sultan Assyaidissyarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864), Masjid Nur ‘Alam diperbaiki lagi.

Beliau mangkat pada tahun 1864 dengan gelar Marhum Indrapura dan digantikan putranya Tengku Sayid Kasim (Assyaidissyarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin) yang lazim disebut dengan Sultan Syarif Kasim Awal (1864-1889) dan mangkat pada tahun 1889 dengan gelar “Marhum Mahkota” karena beliaulah Sultan Siak pertama yang memakai mahkota yang terbuat dari emas dan ditaburi permata aneka warna (mahkota aslinya disimpan di Museum Jakarta dan duplikatnya disimpan di Istana Siak sekarang).

Beliau digantikan oleh putranya Tengku Putra Said Hasyim yang bergelar Assyaidissyarif Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908). Pada masa pemerintahan beliau Masjid Nur ‘Alam digeser tempatnya sejauh 40 langkah dari kedudukan semula ke arah matahari terbit. Sumber lain menyebutkan masjid ini dirombak dan dibangun kembali tahun 1890 tanpa menggunakan besi beton.

Di sisi kiri masjid terdapat sumur tua yang disebut Sumur Raja (Perigi Riau 1895). Air sumur ini digunakan untuk berwudhu. Sumur tua ini kerap dikunjungi peziarah untuk mandi bagi orang yang kaul bernazar setelah sembuh dari sakitnya. Malah tak sedikit berkaul dan memandikan anaknya, ada pula yang datang untuk mengambil airnya supaya awet muda dan tetap sehat wal afiat. Mereka yang bernazar sering merasa nazarnya terkabul. Akibatnya banyak peziarah yang datang berasal dari Malaysia hingga dari manca negara.

Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masjid, terutama guna menghindari perbuatan-perbuatan yang berbau syirik, maka pengurus masjid memutuskan untuk mengunci sumur tua tersebut. Sultan Hasyim memberikan “mimbar” untuk masjid ini. Mimbar tersebut dibuat sebanyak 3 buah di Kota Tinggi Siak, yaitu 1 buah untuk Masjid Nur ‘Alam Pekanbaru, 1 buah untuk Masjid Pelalawan, dan 1 buah lagi untuk Masjid Petapahan, Tapung, Kampar.

Dengan dipindahkannya Masjid Nur ‘Alam dari tempat asalnya ke tempat yang baru oleh Sultan Hasyim, maka masjid ini disebut “Masjid Sultan (masjid yang dipindahkan oleh Sultan). Sebutan ini kelak beralih menjadi “Masjid Raya”. Sultan Hasyim mangkat tahun 1908 dan digantikan oleh putranya Tengku Said Kasim Sani (Sultan Syarif Kasim II) yang memerintah sampai Kerajaan Siak berakhir tahun 1946.

Tahun 1925 beliau pergi ke Pekanbaru untuk melihat masjidnya dan memutuskan untuk membuat masjid yang letaknya berdekatan dengan masjid yang sudah ada, sehingga pembangunan masjid ini tidak mengganggu kepada masjid yang lama. Bahkan Sultan menganggap bahwa bangunan ini tetaplah sebagai perluasan masjid lama.

Untuk melaksanakan hajat pembangunan masjid tersebut, maka diadakanlah musyawarah dibawah pimpinan Imam Haji Mohammad Taher yang merupakan Imam Kerajaan Siak yang berkedudukan di Pekanbaru (Imam Districtshoofd Pekanbaru). Beliau pun mengundang seluruh cerdik pandai, para alim ulama, pemuka-pemuka masyarakat dan para saudagar muslim.

Maka dibentuklah panitia pembangunan masjid yang baru dengan ketuanya Haji Muhammad Sulaiman, Sekretaris Hasan Guru, dan dibantu oleh beberapa orang pengurus antara lain Abdul Salam, Muhammad Jamal, Ibrahim, Said Zein dan lain-lainnya. Ada pun usaha pertama untuk pembangunan masjid tersebut diperoleh waqaf berupa tanah dari Haji Muhammad dan Hajjah Sa’diyah yang terletak bersebelahan dengan masjid lama.

Tanah waqaf tersebut memenuhi persyaratan untuk pembangunan masjid yang dihajati. Pada tahun 1927 dimulailah mengerjakan pondasi yang terbuat dari kerikil Danau Bingkuang. Kemudian dicor pondasi dengan ukuran 22 x 20 m. Sampai pada tahun 1936 atap masjid telah terpasang, tetapi dinding dan lantainya belum disemen.

Setelah bangunan selesai pada pertengahan tahun 1937, maka dalam satu sholat Jum’at diadakanlah upacara “menaiki”nya, maka resmilah pemakaian masjid ini sebagai pengganti masjid yang lama. Pada waktu itulah diumumkan bahwa nama masjid boleh mempergunakan nama lama atau nama baru, yaitu “Masjid Nur ‘Alam” atau “Masjid Sultan” atau “Masjid Besar atau “Masjid Raya”.

Namun nama yang dikukuhkan hingga sekarang adalah “Masjid Raya Nur ‘Alam” Kota Pekanbaru. Pada tahun 1940 dibuat pula pintu gerbang Masjid Raya yang menghadap ke timur. (MT)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Kubah Senapelan © 2008 Design Template by Muhammad Thohiran